MAKALAH BAHASA IKLAN

BAB I

PENDAHULUAN

Membaca fenomena penggunaan bahasa saat ini sungguh sangat memprihatinkan. Bahasa Indonesia yang diperjuangkan menjadi bahasa nasional kita oleh para pahlawan bangsa kita, menjadi tiada berarti saat ini. Hal ini disebabkan  karena telah dirusak dan dikotori oleh para generasi muda sendiri.

Melalui bahasa gaul, bahasa pop, bahasa gado-gado dan bahasa iklan para generasi kita begitu cepat melupakan dan meninggalkan apa yang menjadi bahasa Indonesia. Generasi muda kita begitu cepat terkena pengaruh bahasa-bahasa yang “unik” di telinga mereka. Tanpa peduli itu bahasa baku atau tidak, mereka menggunakan itu dalam keseharian mereka.

Karena sudah menjadi kebiasaan yang mengasyikkan itulah, seakan-akan mereka lebih ”wuaah” jika menggunakan bahasa-bahasa diatas daripada menggunakan bahasa indonesia yang baik dan benar. Akibatnya mereka tidak bisa memperhatikan juga yang mana bahasa yang sesuai dengan EYD dan aturan baku bahasa Indonesia. Kita bisa melihat seperti kata-kata : “so what gitu looooh”, ”emang gue pikirin”, ”mamamia lezatos” dan lain-lain.


BAB II

PEMBAHASAN

Promosi produk dan jasa melalui iklan sekarang ini seperti sudah menjadi suatu keharusan, bahkan muncul semacam kredo bahwa “iklan membuat produk anda menjadi ada”. Anggapannya kurang lebih menjadikan produk itu dikenal di tengah masyarakat, iklan menjadi sarana agar produk menjadi benar-benar “ada” di benak calon konsumen, lalu dibeli/terbeli oleh konsumen. Hal itulah yang menjadikan agensi periklanan masa kini terus berpacu melahirkan iklan-iklan berdaya jual tinggi, kreativitas pun diadu.

Seperti iklan Mizone yang berani memasang tulisan gede Breaking News plus judul berita yang sensasional Supir Bajaj Diculik Alien, dengan sedikit artikel di sampingnya, bayangkan iklan telah berani memposisikan diri sebagai berita. Atau iklan undian Britama yang tampil belum lama ini. Iklan itu tampil seolah menjadi kesatuan dengan berita lain yang ada di surat kabar, bahkan di beberapa surat kabar iklan itu seperti menjadi berita headline, tampil di halaman muka dan menempati bagian atas halaman, ditambah lagi dengan caption yang sungguh meyakinkan. Awalnya, semua orang pasti tertipu dengan iklan gokil ini, jika saja tidak ada tulisan kecil “Iklan” dan nama wartawannya “Britama” pasti banyak orang yang menyangka bahwa ini berita adalah fakta bukan rekayasa.

Sungguh saya salut kepada orang-orang kreatif yang mencipta iklan semacam itu. Wong ndesit macam saya, tak bisa membayangkan bagaimana cara mereka mencari ide nan dahsyat untuk kemudian dieksekusi. Tapi, mohon maaf juga, sebab rasa-rasanya kok iklan ini kurang ajar, kenapa? Karena iklan tersebut juga punya kecenderungan untuk menipu khalayak pengakes media, dimana khalayak membutuhkan suatu informasi dengan nilai kebenaran, bukan rekayasa.

Untuk iklan undian Britama, disadari atau tidak iklan ini telah memanfaatkan momentum banyaknya bencana yang melanda Indonesia dan menghiasi media massa kita belakangan ini. Dengan begitu, orang kembali dibuat deg- degan saat pertama kali melihat visualisasi mobil jatuh di atap rumah itu. Selain mobil yang jatuh di atap rumah tadi, iklan ini juga punya versi lainnya, seperti mobil yang jatuh di halaman parkir, dan nyangkut di pohon.

Waktu pertama kali melihat foto mobil yang ada di atap rumah itu, saya langsung teringat peristiwa tsunami di Aceh, dalam hati saya membatin, “Astaga, bencana apalagi ini?” Asem tenan, ternyata saya kena tipu! Bapak saya pun baru ngeh kalo itu hanya rekayasa dan iklan setelah saya kasih tunjuk tulisan “Iklan” kecil di bagian atasnya dan nama wartawannya yang mirip nama sebuah bank.

Parahnya lagi, saat ada peristiwa mobil jatuh dari lantai enam gedung parkir ITC Permata Hijau Jakarta dan kemudian menjadi berita di media massa, banyak orang menyangka itu masih ulah Britama. Sungguh dahsyat benar pengaruh iklan.


BAB III

KESIMPULAN

Masyarakat harus lebih cerdas dari bahasa iklan. Pendapat itu harusnya bisa membuat kita lebih berhati-hati dalam menyikapi bahasa dan imej iklan, karena sejatinya iklan ada untuk membujuk, merayu, dan menjual. Kasarnya, tujuan iklan itu hanya ada dua: Beli! Konsumsi!

Saya tidak bermaksud menyerukan anti konsumerisme, karena pada masyarakat kontemporer era globalisasi dan homogenisasi sekarang ini celah untuk menghindari konsumerisme hampir tak ada, tak banyak orang yang punya kuasa untuk menolak atau tegas berkata emoh dan wegah. Tetapi sampeyan harusnya bisa lebih “waspada” terhadap bahasa, citra, atau imej yang disajikan oleh iklan. Menjadi konsumen karena bujukan iklan masih termasuk wajar, namun jika menjadi korban karena terkena sihir iklan, sungguh nggak enak rasanya, apalagi untuk konsumen kelas kéré seperti saya.


DAFTAR PUSTAKA

Kasali, Rhenald. Manajeman Periklanan: Konsep dan Aplikasinya di Indonesia, Pustaka Utami Grafiti.

Subroto, Darwanto Sastro, Televisi Sebagai Media Pendidikan. Duta Wacana University Press, Salatiga, 1992.

Untuk file Wordnya  klik  :  bab-i-bahasa-iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: